15 Cara Menulis Berita yang Benar Bagi Pemula

Posted on

Kabar Berita Indonesia – Menulis berita merupakan suatu upaya untuk bercerita, menerangkan, atau mengemukakan informasi suatu moment dalam bentuk tertulis. Dalam menulis teks berita, informasi yang ditulis merupakan fakta bukan opini. Selain itu teks berita disusun komitmen 5W + 1H (What, Where, When, Who, Why, How) dan juga mengikuti kaidah P3SPS (Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang dibuat pemerintah.

Berita sudah jadi mengonsumsi kudu bagi seluruh orang, gara-gara lewat berita kita sanggup beroleh beragai informasi, baik tentang moment paling baru maupun perkembanyannya. Beirta sanggup kita dapatkan lewat tempat cetak, elektronik, internet, ataupun hanya berasal dari mulut ke mulut. Ragam style berita yang sanggup kita baca juga beragam, merasa berasal dari berita olahraga, ekonomi, sampai politik.

Tidak seluruh moment layak dijadikan sebagai berita. Kadangkala karna tingginya keperluan dapat berita, tersedia saja penulis berita yang mengganggap trafik sebagai yang terpenting. Dalam menulis berita mereka lebih mementingkan bagaimana menambah trafik daripada mengisi berita. Ini sebuah salah kaprah, karna yang kudu diperhatikan pertamakali oleh penulis berita adalah bagaimana menulis sebuah berita yang baik, menarik, dan cocok aturan. Berikut ini dapat Pakar Komunikasi paparkan 15 cara menulis berita sebagai arahan bagi anda.

1. Menemukan Peristiwa Untuk Dijadikan Berita

Berita berisi moment yang sifatnya aktual dan mutlak untuk disebarluaskan. Contoh mudahnya andaikata moment kebakaran, bencana alam, dan perihal mendadak lainnya yang menarik perhatian umum. Jika tidak ada, maka kudu dikerjakan pencarian kegiatan-kegiatan atau moment unik yang nampak di masyarakat. Misalnya berita tentang pejabat pemerintah yang masuk ke pasar tradisional. Orang biasa yang naik angkutan umum tidak menarik untuk dijadikan berita, namun jikalau hal selanjutnya dikerjakan oleh publik figure pasti layak jadi sebuah berita. Contoh lain andaikata berita tentang rutinitas istiadat di suatu daerah, dsb.

2. Pencarian sumber berita

Ketika moment yang dapat dijadikan sebagai berita sudah ditemukan, maka penulis berita kudu melacak sumber irformasi yang yang tepat, sehingga mengisi berita akurat. Misalnya berita tentang perampokan, maka informasi sanggup didapatkan bersama dengan melakukan wawancara bersama dengan pihak kepolisian terkait, saksi mata perampokan, atau warga sekitar.

3. Wawancara , Observasi, dan Dokumentasi

Seperti dicontohkan sebelumnya, melakukan wawancara kudu dikerjakan untuk beroleh fakta tentang moment perampokan yang terjadi,  data korban dan juga proses kejadian. Wawancara dikerjakan lewat tanya jawab bersama dengan sumber informasi. Observasi dikerjakan bersama dengan mengamati tanda-tanda yang tampak di lokasi kejadian. Sedangkan dokumentasi dikerjakan bersama dengan melacak dan menghimpun data yang bersumber berasal dari buku, majalah, arsip, atau dokumen lainnya.

4. Mencatat Hal-Hal Penting

Dalam proses pencarian informasi, kudu dikerjakan pencatatan hal-hal mutlak tentang bersama dengan berita yang dapat ditulis. Pencatatan sanggup dipandu bersama dengan pertanyaan 5W1H yaitu:

What : moment apa yang terjadi,
Who: siapa yang terlibat dalam moment tersebut,
Where: di mana moment selanjutnya terjadi,
When: kapan moment selanjutnya terjadi,
Why: mengapa moment selanjutnya terjadi, dan
How: bagaimana proses terjadinya peristiwa.
5. Membuat kerangka berita

Kerangka berita merupakan uraian kasar bagaimana informasi yang sudah dihimpun selanjutnya dapat diramu dalam sebuah laporan berita. Berita terdiri berasal dari 3 unsur yakni judul, teras, dan juga kelengkapan atau penjelasan berita. Model berita yang ditulis juga sanggup bersifat berita langsung, yang mengemukakan unsur  5W + 1H pada awal paragraf (biasanya alinea kesatu dan kedua); atau juga berita tidak langsung yang mengemukakan unsur  5W + 1H pada pertengahan sampai akhir paragraf.

6. Menulis Teras Berita

Teras berita merupakan alenia pertama sebuah berita. Teras berita sebaiknya ringkas (maks 35 kata), dan sebaiknya di mulai bersama dengan unsur “who” (siapa) dan “what” (apa). Sesuaikan susunan penulisan bersama dengan kaidah bhs Indonesia yakni SPOK: Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Untuk berita tentang moment yang dapat terjadi, unsur waktu dan area kebanyakan diletakkan di bagian akhir paragraf. Gunakan seminim mungkin kutipan atau pertanyaan pada teras berita.

7. Menulis Isi Berita

Isi berita merupakan cermat informasi yang inginkan disampaikan dalam sebuah berita. Isi berita ditulis sehabis teras berita. Dalam menulis mengisi berita, sebaiknya susun dalam paragraf – paragraf pendek yang berisi 3 sampai 5 kata-kata saja. Usahakan pula sehingga setiap paragraf hanya berisi satu ide.  Paragraf yang pendek dan hanya berisi satu inspirasi dapat mendorong pembaca untuk melanjutkan membaca dan juga memudahkan pembaca untuk melakukan pemindaian.
8. Penyuntingan berita

Penyuntingan berita dikerjakan untuk menjauhi kesalahan-kesalahan penulisan informasi yang mungkin terjadi. Misalnya penulisan ejaan (nama, lokasi, dkk); tata bahasa; makna kalimat; pembedaan opini bersama dengan fakta, dkk. Berita yang di publish juga kudu diperhatikan sehingga tidak melangar kode etik jurnalistik.

Selain kode etik jurnalistik, di Indonesia terdapat aturan perundang-undang yang disusun oleh pemerintah untuk mengatur prihal penyiaran di Indonesia, yakni Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam menulis sebuah berita, penulis juga kudu menyimak kaidah P3SPS tersebut.

Setelah melakukan revisi, sebaiknya baca ulang berita yang kamu buat, lantas revisi lagi, baca lagi, dan revisi ulang berulang kali sampai benar-benar yakin bahwa berita yang kamu tulis tidak punyai kesalahan.

9. Tidak Mengandung Fitnah, Hasutan, dan Kebohongan

Sesuai bersama dengan kaidah P3SPS, konten berita yang disiarkan kudu beri tambahan manfaat dan pertolongan pada publik. Konten berita dilarang punya kandungan hal-hal yang bersifat fitnahan, hasutan, menyesatkan dan berisi kebohongan atau hoax. Dalam menyebabkan dan menyebarkan berita, kudu diperhatikan sehingga mengisi berita tidak merugikan dan mengakibatkan efek negatif di masyarakat.

10. Tidak Menonjolkan Unsur Kekerasan, Seksualitas, Perjudian, Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Terlarang

P3SPS mengharuskan berita yang dibuat dan disiarkan kepada publik untuk pertimbangkan munculnya mungkin ketidaknyamanan publik, menyimak privasi, dan melakukan penggolongan siaran untuk keperluan anak (baca juga: jenis program televisi). Oleh gara-gara itu dalam P3SPS juga diatur sehingga dalam pembuatan dan penyiarannya, dikerjakan pembatasan pada unsur yang bermuatan seksual, kekerasan, narkotika dan sejenisnya, perjudian, dan juga tayangan bersifat supranatural, horror, dkk.

11. Tidak Mempertentangkan Suku, Agama, Ras atau Golongan

Dalam P3SPS program siaran, juga berita diwajibkan menjunjung perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Baik itu kelompok golongan berdasarkan perbedaan budaya, usia, gender, maupun sosial ekonomi. Dalam mewujudkan penghormatan tersebut, berita dilarang punya kandungan konten yang sifatnya merendahkan, mempertentangkan atau melecehkan suku, agama, ras dan golongan tertentu. Ketika menyiarkan berita tentang moment konflik sekalipun, penulis berita diwajibkan untuk menjaga independensi dan netralitas dirinya.

12. Tidak Merendahkan Nilai – Nilai Yang Berlaku Dalam Masyarakat

Septi dijelaskan sebelumnya, P3SPS mengharuskan berita yang dibuat dan disiarkan kepada publik untuk pertimbangkan munculnya mungkin ketidaknyamanan publik. Oleh gara-gara itu dalam pembuatannya, sebuah berita yang dapat disiarkan kepada publik kudu menjukkan sikap menjunjung nilai dan norma, kesopanan, dan juga kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. Penulis berita kudu membuktikan sikap penghormatan pada perbedaan nilai yang tersedia dalam berita yang dibuatnya.

13. Tata Bahasa dan Kosokata

Dalam penyusunan kalimat, memanfaatkan tata bhs yang cocok bersama dengan kaidah bhs Indonesia (SPOK). Gunakan kata rubah orang ketiga dalam melukiskan peristiwa. Dalam penyusunannya, lebih baik memanfaatkan kata-kata aktif dibanding kata-kata pasif. Gunakan pula kata berpasangan yang cocok seperti: ‘baik vs maupun’, ‘jika vs maka’, dkk.

Perhatikan pemanfaatan kata yang sesuai, andaikata kata ‘dia’ untuk orang biasa namun untuk orang yang dihormati memanfaatkan kata ‘beliau’. Gunakan kata yang umum digunakan sehingga gampang dipahami, dan menjauhi pemanfaatan jargon atau makna tehnis . Periksa ulang ejaan kata, andaikata kudu cek kamus untuk meyakinkan kebenarannya.

14. Tanda Baca dan Struktur Kalimat

Tanda baca diperlukan untuk melakukan pemenggalan kalimat. Pastikan menempatkan tanda baca bersama dengan baik, yang cocok bersama dengan kaidah bhs indonesia dan tidak menyebabkan kerusakan makna kalimat. Hindari kata-kata panjang (maks 16 kata), gara-gara lapisan kata-kata yang pendek dapat lebih gampang dimengerti dan sedap dibaca dibanding kata-kata yang panjang. Hindari pemanfaatan dua kata yang mirip dalam satu kalimat, dan jangan mengawali kata-kata bersama dengan kata sambung layaknya ‘namun’, ‘sehingga’, dkk.

15. Kutipan dan Atribusi

Kutipan diperlukan untuk memperkuat, meyakinkan atau memberi fakta dalam berita yang ditulism namun atribusi diperlukan dalam berita yang bersifat opini.  Sebaiknya memanfaatkan satu kutipan atau atribusi dalam satu paragraf.

Demikian artikel tentang cara menulis berita ini, dalam menulis berita pertama tama diperlukan penemuan moment yang dapat dijadikan sebuah berita, lantas pencarian informasi, pencatatan, pembuatan kerangka berita, penulisan mengisi berita, dan penyuntingan berita sehingga berita yang ditulis cocok bersama dengan kaidah yang berlaku di Indonesia. Semoga bermanfaat! ^^